Wednesday, July 4, 2012

Sekolah, Metodologi dan Filosofi: Selamat Hari Pendidikan Nasional, on Wednesday, 2 May 2012 at 21:03


Sebagai seorang pendidik, aku peduli dengan cara mengajar atau istilah kerennya metodologi mengajar. Metodologi menurutku penting sekali, terkadang malah lebih penting dari substansi pelajarannya/matakuliahnya. Kalau metodologinya betul, pelajaran yang sulit terasa mudah dan menyenangkan. Sebaliknya, pelajaran yang sebetulnya tidak sulit bisa jadi rumit (bahkan traumatic bagi anak didik) kalau metode mengajarnya salah. Waktu SMA aku hampir putus asa dengan Geografi karena kalau salah menjawab kami akan 'dihajar' dengan penggaris kayu yang panjang, hiiiiii...

Metodologi mengajar karenanya sangat tergantung dengan kreativitas si pengajar. Yohannes Suryo membuat Fisika jadi asyik. Guru SMP-ku bikin Matematika mudah. Dan, Miss Yuli yang cantik di tempat les bikin English jadi pelajaran favorit. Guru-guru ini, subhanallah, bisa bikin pelajaran yang tadinya menyeramkan ‘kayak hantu’ menjadi asyik bahkan bikin ketagihan. Waktu SMP, aku biasa pamer ke kawan-kawan lain (yang sekolahnya di tempat lain) teknik mudah mengerjakan rumitnya matematika, lalu mendapat tatapan kagum yang kira-kira artinya: it’s so cool… Lalu pas SMA mendadak ‘mati gaya’ kalau ngerjain Matematika karena, entahlah, kok susah ya…. (abis gurunya nggak enak sih, hehehe… ngeles).

Ingat nggak, waktu TK diajak guru ke bawah pohon lalu dibacakan cerita atau dongeng dari buku besar seukuran A2 yang full color? Atau diajak jalan kaki di sekeliling lingkungan sekolah sambil mencatat tanaman apa saja yang ada? Salah satu yang paling aku suka (dan ingat sampai sekarang) adalah waktu pertama kali membuat percobaan biologi. Waktu itu kami disuruh memasukkan daging mentah ke dalam 3 toples yang masing-masing ditutup rapat, ditutup dengan kain kasa, dan toples terakhir dibiarkan terbuka. Ini percobaan yang judulnya apa ya? Hahaha… sumpah, aku malah lupa. Pokoknya waktu itu seru ‘kali tiap hari bikin catatan perkembangan si daging busuk itu. Gayanya udah kayak ilmuwan aja, hihihi… (cuman nggak pakai jas lab putih dan perekam suara waktu mencatat perkembangan percobaan itu).

Nah, beberapa minggu terakhir ini aku dipusingkan dengan pelajaran sekolah Rara yang masih kelas 1 SD. Aku lihat pelajaran Math-nya mulai ‘keluar jalur’. Demikian juga dengan Science. Operasi penjumlahan dan pengurangan yang menurutku harus diperkenalkan dengan perlahan dan fun supaya anak nggak takut sama Math, kelihatannya tidak dipikirkan. Aku sudah mulai ‘galau’ waktu melihat operasi penjumlahan dan pengurangan yang BARU PERTAMA kali diperkenalkan sudah pakai operasi ‘meminjam’. Itu lho, seperti 25-7, nah kan 5 nggak bisa dikurangi 7 jadi harus meminjam dari puluhannya.

Lalu tambah sulit ketika pertanyaannya bukan lagi: a+b= berapa, melainkan: a+berapa=b? Bahkan ada pertanyaan: 56-berapa=19? Bayangin aja, masa anak kelas 1 SD dikasi pertanyaan sesulit itu? Bahkan di buku pelajarannya (buku cetak) operasi penjumlahan dan pengurangan TIDAK PAKAI MEMINJAM. Jadi hanya operasi sederhana seperti 68-25 atau 59-24. Udah gitu, materi yang sulit itu tidak dijelaskan dengan media bantu seperti gambar (gambar buah, batu, telur, dst) yang sangat diperlukan anak-anak supaya mereka paham.

Hari berikutnya aku melihat jadwal ulangan harian beserta kisi-kisinya. Di pelajaran Science ada materi mengenai ENERGI termasuk sumber, jenis, cara menghemat energi, dan seterusnya. Waktu aku periksa buku cetaknya, judul materinya sangat berbeda dan khas anak-anak yaitu PENYEBAB BENDA BERGERAK. Tidak ada satu kali pun disebut ‘energi’. Oh, jadi seperti operasi meminjam dalam Math itu, ini adalah inisitaif gurunya.

Akhirnya aku memutuskan menemui gurunya yang tanpa disangka-sangka begitu antusias menjelaskan bahwa materi yang mereka ajarkan tidak keluar dari kurikulum. Ibu guru itu juga membawa buku2 dari penerbit lain sebagai perbandingan. Dan menjelaskan bahwa memang ada beberapa improvisasi yang semata-mata dilakukan supaya nanti waktu kelas 2 anak-anak sudah lebih siap, bla.. bla.. dan seterusnya sambil menunjukkan fish bone kurikulum (ya aku taulah itu namanya fish bone, kan aku pernah jadi tim kurikulum juga di kampus, hahaha…).

Aku sampaikan kepada mereka bahwa aku senang guru-guru begitu rajin dan bersemangat. Tapi improvisasi bisa berbahaya kalau anak-anak sampai takut dan malas dengan pelajaran Math dan Science yang sebetulnya sangat penting sebagai basic knowledge mereka. Ini penting karena pendidik tidak boleh cuma mengejar substansi tetapi melupakan metodologi. Belajar, apa pun subjectnya, harus dalam koridor yang wajar sesuai umur dan kemampuan anak didik, dan sebaiknya dengan metode yang mudah dan menyenangkan.

Aku sampaikan juga pengalamanku mengajari Kiki (kakak Rara) operasi penjumlahan dan pengurangan. Diawal, Kiki bahkan tidak mengerti apa artinya TAMBAH, KURANG, SAMA DENGAN, dan seterusnya. AKu harus mengeluarkan batang-batang lidi supaya dia mengerti (batang lidi karena dulu di kampung kami belajar di sekolah menggunakan itu, bukan sempoa apalagi kalkulator. Ah, jadi teringat lagi!). What I’m traying to say is: filosofi dari materi itu yang paling penting. Filosofi MENJUMLAH, MENGURANG itu apa? Kita sering kali melupakan itu karena sibuk mengerjakan sebanyak-banyaknya latihan dari bank soal. Kalau tidak menguasai filosofi dari tiap-tiap materi, anak-anak gampang lupa, bahkan langsung lupa tepat di hari terakhir ujian (pengalaman pribadi, hehehe…).

Guru dan dosen yang cemerlang banyak sekali jumlahnya, tetapi yang smart dalam melakukan knowledge transfer tidak banyak. Ada pendidik yang datang ke hadapan murid-muridnya hanya bermodal 1-3 lembar slide power point tapi bisa menghipnotis murid-muridnya hingga 2 jam. Sebaliknya kita sering melihat 50 lembar slide yang penuh huruf (dan kecil-kecil) yang akhirnya bikin ngantuk.

'Sekolah' rupanya harus dikerjakan tiap hari, belajar terus supaya semakin bijaksana dan berwawasan. Selamat Hari Pendidikan buat semua pendidik dan anak didik. Jaya Indonesia!

No comments :

Post a Comment